Sesi 2 Pleno - Pdt. Billy Kristanto

National Reformed Evangelical Convention (NREC) 2006
Iman, Pengetahuan & Pelayanan (III)
Wisma Kinasih, -

Sesi 2 Pleno
For Youth and Workers

Pengkhotbah: Pdt. Billy Kristanto

Pembahasan ini berkenaan dengan mandat budaya. Mandat pertama adalah mandat Injil, dan yang kedua adalah mandat budaya. Mandat budaya adalah bagaimana orang Kristen yang percaya dapat menyaksikan Kristus dalam semua aspek hidup dalam segala kelimpahannya. Orang yang memiliki worldview yang luas akan memiliki aspek hidup yang luas, mengerti banyak bidang kehidupan yang lain. Pembahasan ini akan melihat ke dalam art. Dalam bidang art yang saya maksud adalah fine arts (seni tinggi). Misalnya musik, lukisan, sculpture, arsitektur, sastra. Kali ini saya hanya membahas musik dan arsitektur.

Periode middle age adalah periode yang paling panjang clan semua periode lainnya. Meliputi 1000 tahun, yang dimulai dari pertobatan kaisar Konstantin menjadi pemeluk agama Kristen. Pertobatan ini adalah blessing tetapi juga ada hal negatif di dalamnya. Sama seperti dalam kesulitan ada blessing in disguise, demikian juga dalam keadaan yang baik ada kejelekan di dalamnya. Dulu beribadah di tempat-tempat tersembunyi, sekarang bisa mendirikan gedung-gedung besar untuk gereja. Tetapi kalau Kristen jadi agama negara, maka banyak orang yang tidak mengerti kekristenan memeluk agama Kristen. Orang-orang percaya dalam keadaan sulit lebih tersaring daripada zaman ketika Konstantin bertobat. Lalu ada juga orang yang senang mengidentikkan middle ages sebagai abad kegelapan yang memicu reformasi. Tuhan sudah mempersiapkan reformasi jauh sebelum Luther dengan membangkitkan benih-benih pertama yang memuncak pada Luther.

Zaman ini adalah zaman di mana konsep gereja identik dengan kerajaan Allah yang harus luas dan menginvasi ke seluruh dunia. Konsep kerajaan Allah dijadikan konsep daerah jajahan secara teritorial. Lalu ada sistem hirarkial dan tuan tanah dan pekerjanya. Ini semua memicu reformasi. Seni-seni akhir abad pertengahan juga sebenarnya menunjang memuncaknya reformasi Luther. Misalnya musik dan lukisan. Tersembunyi tetapi sangat powerful. Tetapi zaman itu juga merupakan the golden age of Christianity. Kita dapat melihat bagaimana Tuhan bekerja sehingga walaupun pemimpin gereja bisa kacau balau dan saling rebutan dan masing-masing mengklaim kepemimpinan dengan menyingkirkan yang lain, banyak hal baik, misalnya pendidikan semuanya memiliki pusat pada universitas-universitas yang berdiri pada zaman ini.

Ada juga orang-orang yang telah muak terhadap dunia maupun gereja dan mendirikan biara-biara, yaitu gerakan monastisisme. Kita sering menganggap mereka sebagai orang-orang yang menarik diri dari dunia dan tidak menggarami dunia. Tetapi sebenarnya tidak sepenuhnya seperti itu, karena mereka sebenarnya menjalankan tongkat estafet bagi tradisi gereja yang sejati. Merekalah yang lebih mengerti isi hati Tuhan. Ada yang dari pagi seharian berdoa dan memuji Tuhan, ada yang menyalin buku-buku dan kebudayaan Kristen dengan penyalinan yang sangat teliti dan menyebabkan perpustakaan paling penting ada di biara. Di satu sisi ada gambaran dark ages, tetapi di sisi lain kita melihat Tuhan bekerja. Ada jalan keluar di tengah-tengah kesulitan, meskipun jalan keluar itu tidak selalu seperti yang kita bayangkan. Kerajaan Allah itu seperti biji sesawi yang tumbuh pelan-pelan, bisa puluhan tahun untuk menjadi besar. Panggilan kita adalah taat dengan rendah hati menjalankan apa yang Tuhan percayakan. Berapa besar pengaruh pekerjaan kita itu bukan urusan kita. Itu urusan Tuhan.

Arsitektur
Katedral-katedral memiliki bentuk yang kalau dan atas terlihat seperti salib. Tetapi kalau dari atas siapa yang akan lihat? Dulu belum ada helikopter. Yang lihat adalah Tuhan. Mereka melakukan segala sesuatu untuk dilihat Tuhan, bukan untuk manusia. Mencari pujian dari Tuhan, bukan tepuk tangan manusia. Lalu ada dua tower berbentuk tangan yang sedang berdoa. Ini menyatakan bahwa bangunan ini adalah rumah doa. Lalu katedral adalah bangunan yang menjulang tinggi. Menunjukkan relasi dengan Tuhan. Kemudian bangunan megah di tengah-tengah rumah-rumah kecil ini sangat menonjol dan menunjukkannya sebagai simbol kerajaan Allah yang hadir di tengah-tengah dunia.

UNESCO mengatakan kalau bangunan-bangunan tinggi dibangun di samping katedral, maka katedral itu berada dalam keadaan endangered. Lalu pada bagian interior ada beberapa tiang yang bertemu di tengah-tengah. ini adalah sumbangan dan zaman gothic. Titik pertemuan pillar-pillar ini adalah penunjang yang kuat. Ini seperti Yesus Kristus sebagai batu penjuru yang mengikat semua pillar. Kalau titik ini ditarik, semua akan ambruk. Kalau Kristus tidak menjadi titik utama yang memadukan semua aspek hidup kita, berarti semua aspek hidup kita akan hancur. Kristus sebagai titik fokus ini berarti entah says makan, kerja, studi semuanya adalah untuk Tuhan. Tanpa hal ini berarti kita menjalani kehidupan yang fragmented.

Yesaya 6:1-5 menjadi sesuatu yang digambarkan dengan interior dari katedral. Ketika masuk, manusia merasa begitu kecil dan berdosa berhadapan dengan interior yang megah dan agung yang menggambarkan transendensi Allah. Ketika Yesaya melihat kemuliaan Allah, dia tidak mengatakan, "Tuhan itu besar, saya juga! Tuhan mulia, saya juga mau dimuliakan, Tuhan melakukan mujizat, saya juga!" Tidak! Tetapi dia mengatakan, "Celakalah saya yang najis, tetapi melihat kemuliaan Tuhan!" Bahkan rajapun ketika masuk katedral akan merasa kecil. Waktu kita melihat sesuatu yang besar, masuk ke dalam pengenalan diri, seharusnya sadar bahwa kita kecil. Aspek yang mau diajarkan Yesus ketika mengidentikkan orang yang masuk ke dalam kerajaan Allah adalah salah satunya self-reverential. Melihat orang lain lebih besar dan saya itu kecil.

Lalu mosaik-mosaik di jendela. Kaca adalah penemuan yang sangat penting karena mengaitkan kita dengan ruangan lain yang terpisah. Dalam ruangan katedral, ada satu perasaan "inilah sorga." Rumah-rumah tidak ada yang pakai kaca, tetapi masuk ke katedral orang akan merasakan sorga. Masuk ke tempat ini mereka overwhelmed dengan konsep God's beauty dan God's greatness. Zaman itu, seperti juga zaman sekarang, ada perdebatan mengenai boleh tidaknya gambar-gambar ini dipakai. Ada argumen yang mengatakan bahwa orang-orang yang tidak terdidik dapat mengenal kisah Alkitab dari gambaran ini. Allah pun tetap menggambarkan Allah dalam bahasa yang sederhana. Misalnya telinga Allah dan mata Allah atau tangan Allah. Ini juga yang ada dalam pemikiran Calvin mengenai bahasa gambar. Allah menyatakan diri dalam cara yang dapat kita pahami.

Katedral di Ulm dibangun dengan kapasitas 20.000, padahal penduduk kota itu pada waktu itu hanya 12.000. Ini adalah gereja yang terbesar secara luasnya. Jika jumlah penduduk hanya 12.000, mengapa bangun katedral untuk 20.000 orang? Karena mereka memiliki visi ke depan.

Bernard of Clairvaux (orang kedua yang sering dikutip Calvin setelah Agustinus) mengatakan bahwa bentuk gothic harusnya tidak terlalu ruwet, karena akan mendistract pandangan kita kepada Tuhan. Lebih baik sederhana namun tetap memiliki elemen-elemen gothic.

Musik
Musik dalam middle ages berbentuk monophonic. Salah satu warisan dari zaman ini adalah lagu O come, O come Immanuel. Lagu ini memberikan suatu ketenangan dalam datang ke hadapan Tuhan. Kalau hanya tahu satu aspek berarti pikiran yang sempit. Datang memuji Tuhan tidak hanya berbentuk selebrasi saja. Ada juga sisi ketenangan, ratapan, dan doa. Ada banyak aspek, mengapa sempitkan dengan selebrasi? Sorak sorai dengan megah. Ini kesempitan pikiran. Aspek kekristenan itu begitu limpah.

Lalu musik middle ages juga berbentuk free rythm. Tetapi bukan oerarti bebas tidak teratur. Karl Barth mengatakan karena Allah bebas maka Dia berinkarnasi. Inkarnasi bukan membatasi kebebasan Allah, tetapi justru menunjukkan kebebasan Allah. Kebebasan adalah kalau Roh Kudus dapat bekerja secara dinamis meskipun di dalam liturgi. Mengatakan Roh Kudus baru bisa bebas kalau tidak ada liturgi justru membatasi Roh Kudus. Di dalam keteraturan memperlihatkan dinamisme, inilah kebebasan. Bebas tidak berarti liar. Lagu ini juga ditulis dengan tangga nada modus. Pada zaman middle ages, musik-musik terbaik ditulis oleh gereja. Musik duniawi yang terbaikpun dipengaruhi oleh musik gereja. Tidak seperti zaman ini.

Gereja-gereja tidak punya musik sendiri jadi pinjam musik dari orang-orang yang tidak kenal Tuhan, bahkan membenci Tuhan dan mencintai kekerasan. Gereja pinjam musik-musik luar, pinjam budaya-budaya luar untuk gereja dengan seenaknya. Culture tidak pernah netral, entah dia dikuasai oleh dosa, atau tunduk kepada Firman. Pada zaman middle age gereja menjadi pusat kebudayaan, musiknya dipinjam oleh dunia, tetapi sekarang gereja menjadi pengemis yang meminjam budaya-budaya rendah. Gereja harus bertobat! Kalau gereja membuang anugerah Tuhan pasti akan dihakimi oleh Tuhan.