Menyangkal Diri dan Memikul Salib

Lukas 12:47, Yeremia 1:1-12

Kalimat Tuhan Yesus di bagian ini adalah satu kalimat kunci, yang esensi, yang paling mendasar di dalam semua perkataan Tuhan Yesus, yaitu, “Jika engkau tidak memikul salibmu, maka engkau tidak layak untuk Aku.” Memikul salib menjadi satu prasyarat, menjadi satu indikasi, satu catatan, sesuatu yang ditetapkan Tuhan untuk kita bisa disebut murid-murid Tuhan. Di bagian lain Tuhan Yesus mengatakan, “Jikalau seseorang tidak memikul salib dan mengikut Aku, maka dia tidak layak untuk Aku.” Tema menyangkal diri, memikul salib menjadi tema sangat penting bagi hidup kita. Tetapi sayangnya banyak gereja tidak menekankan prinsip ini. Semua orang mementingkan kesuksesan dan kemakmuran. Menyangkal diri menjadi sesuatu yang sangat langka dibicarakan. Di abad 21, yang menjadi tema hidup kita bukanlah menyangkal diri. Kultur kehidupan di abad 21 bertema recognition, tema significance, tema sukses, eksistensial. Tema ini secara tidak sadar membentuk seluruh aspek hidup kita. Kita dihadapkan dengan satu kenyataan jika engkau mau dianggap di dalam dunia ini, mau dihargai, maka engkau perlu mempertimbangkan recognition. Jika engkau ingin dihargai eksistensi-mu, maka perlu mempertimbangkan signifikansi di dunia ini. Tema-tema ini tanpa sadar membentuk hidup kita.

Perhatikan zaman dimana kita hidup, khususnya dalam konteks di Singapore, orang terbentuk dalam pola hidup yang berkompetisi. Kompetisi menjadi suatu hal yang lumrah. Baik dalam kompetisi yang sehat sampai kompetisi yang tidak sehat, pelan-pelan menjadi sesuatu yang common. Kita mulai terbiasa dengan kompetisi. Mulai dari kompetisi dalam sekolah SD, SMP sampai Universitas. Demikian juga dalam dunia kerja. Bahkan termasuk di dalam dunia rohani, dalam pelayanan. Semangat kompetisi, semangat mementingkan recognition, mementingkan signifikansi, pelan-pelan menjadi satu racun yang merusak orang Kristen. Tuhan Yesus berkata dalam injil Lukas, “Barangsiapa tidak memikul salib, Dia tidak layak untuk Aku.” Masih relevankah dalam abad 21? Masih relevankah orang Kristen membicarakan menyangkal diri dan memikul salib? Ini menjadi satu pertanyaan rohani yang sangat penting bagi orang Kristen.

Saudara pasti sudah hafal ayat-ayat ini, tetapi berapa banyak kita benar-benar menghayati ayat ini dan mengatakan, “Ya, amin, saya ingin benar-benar menghidupi hidup dengan menyangkal diri dan pikul salib.” Dalam kenyataannya, teori secara pengetahuan, kita sadar panggilan Tuhan untuk menyangkal diri adalah necessity yang tidak bisa ditawar. Tetapi pada kenyataannya kita tidak rela menyangkal dan pikul salib. Kita masih sisakan recognition menjadi sesuatu yang kita pentingkan dalam hidup ini. Masih membiarkan signifikansi diri dan tidak rela membuang recognition demi kerajaan Allah.

Sangat aneh di dalam zaman kita hidup ini, orang yang mengejar recognition dan significance dengan berbagai cara. Orang mengupayakan supaya dia dianggap, dihargai dan diterima; dari cara yang sehat sampai cara yang kontroversial. Kita melihat di koran, di berita bahwa kaum selebritis semakin radikal, semakin ektrim, semakin aneh. Mereka menampilkan hidup yang eksentrik, tanpa ada orang yang mencela. Ini adalah sesuatu yang tidak wajar, orang tidak mengatakan ini sesuatu yang tidak etikal. Orang yang kawin cerai justru dianggap sebagai suatu prestasi. Itu ironis. Ini kenyataan dalam dunia di mana kita hidup. Waktu saya pulang dari Amerika, di Times Square (New York) ada satu peristiwa yang menjadi headlines di Senin pagi. Ada beberapa anak muda yang menembaki orang-orang yang tidak besalah. Orang yang sedang lalu-lalang di Times Square ditembaki. Ada yang luka dan harus dirawat di rumah sakit. Polisi harus menangkap sampai 54 orang. Tetapi aneh di dalam peristiwa ini, saya melihat berita di TV airport, tidak ada satu komentar yang mengutuki, yang mengatakan ini suatu perbuatan yang tidak bermoral, yang sangat menakutkan dan membahayakan manusia. Tidak ada yang mengatakan ini suatu tindakan yang salah! Sepanjang hari berita justru mengupas apa motivasi dari pelaku. Semua sibuk membahas aspek psikologis maupun hukum yang menyertai peristiwa ini. Semua sibuk memperdebatkan siapa yang harus dihukum dan siapa yang salah. Perdebatan-perdebatan itu tidak memberikan justifikasi. Lalu orang menganggap inilah cara untuk mendapatkan recognition, significance; yaitu melalui tindakan yang membahayakan hidup orang lain. Di zaman kita hidup kita susah mendapatkan contoh bagaimana orang hidup dengan integritas yang seharusnya. Kita sukar menemukan orang yang jadi panutan untuk menjadi manusia yang seutuhnya; menjadi orang yang berintegritas baik moral etika maupun perbuatan, apalagi integritasi iman. Ini sesuatu yang sangat langka. Jikalau kita perhatikan kultur, award diberikan kepada orang yang hidup eksentrik. Academy Award diberikan kepada orang yang hidup tidak karuan, hidup keluarganya tidak beres, lalu dianggap sebagai suatu recognition. Tetapi kita tidak temukan ada berita, wartawan jurnalis yang mengangkat orang yang hidup berintegritas. Tidak banyak kita temukan hal itu. Kalau kita kembali ke Alkitab, adakah contoh-contoh ideal orang yang hidup berintegritas baik dalam moral, etika dan semangat pikul salib, serta menyangkal diri? Kita temukan sangat sedikit orang semacam itu di Alkitab. Petrus menyangkal Tuhan, Daud pernah berzinah, Yakub pernah menipu, Abraham pernah menipu. Tokoh-tokoh Alkitab yang kita sebutkan satu persatu ada cacat cela, tetapi dari sekian banyak tokoh, ada satu tokoh yang unik yang berbeda dari banyak tokoh Alkitab, seorang yang menjadi contoh bagaimana kita bisa memikul salib, mengabaikan recognition dan significance diri, tetapi mementingkan kemuliaan Tuhan Allah.

Kita menemukan nabi Yeremia yang luar biasa. Tokoh ini bukan saja dipakai Tuhan dalam zaman yang sukar untuk memberikan peringatan kepada pemimpin bangsa saat itu. Tokoh ini begitu unik dan menarik perhatian, oleh karena tokoh ini memilih cara hidup yang berbeda. Demi mementingkan Tuhan dia rela hidup dengan cara yang berbeda, rela melawan arus, rela tidak di recognized. Dalam hidupnya justru lebih banyak tidak diterima, dibanding diterima. Tetapi demi kesetiaan kepada Tuhan, dia rela tidak di recognized. Yeremia dengan kekuatannya melayani Tuhan. Jikalau kita melihat Yeremia, maka kita menemukan satu pelayanan yang sangat tidak mudah. Dia khotbah tidak ada yang dengar, dia menegur tidak ada raja yang terima. Dalam pasal 15 kita menemukan pengalaman yang sangat pahit yang tidak dialami tokoh Alkitab yang lain. Yeremia merupakan tokoh figurative Kristus yang lahir di dunia, ia mengalami penolakan tetapi tetap menjalankan kehendak Allah dengan setia. Ia bukan hanya memberitakan firman, melainkan menjadi teladan dalam menyangkal diri dan memikul salib. Dengan dasar itu, maka Yesus Kristus menuntut barangsiapa tidak menyangkal diri, maka ia tidak layak bagi Aku. Tokoh Yeremia juga tidak berjuang merebut recognition dari bangsanya, tetapi simply lebih memilih beriman, bersandar pada Tuhan, meskipun melawan arus. Bahkan di pasal 15 kita menemukan semacam pergumulan yang menjadi puncak pelayanan Yeremia. Ia tidak mengerti karena semakin dia melayani, semakin ia tidak dihargai orang. Semakin setia, bukan kesuksesan yang diterima, melainkan kesulitan yang dia alami. Simply sampai pada satu titik puncak, Yeremia berkata, “Tuhan aku menyesal dilahirkan, seorang yang dilahirkan menjadi perbantahan begitu banyak orang.” Bahkan Yeremia pernah mengatakan, “Bagiku Engkau adalah sungai yang curang, yang tidak dapat dipercaya.” Ini bukan pengalaman dan kalimat orang tidak beriman. Tetapi ini justru kalimat yang lahir dari seorang yang bergumul dalam menjalankan kehendak Tuhan; tetapi mengalami pengalaman pahit yang dia tidak bisa mengerti. Maka jalan satu-satunya adalah dia lari kepada Tuhan dan bertanya kepada Tuhan. Dalam ketidakmengertiannya dia berseru, “Tuhan masih adakah signifikansi saya melayani Tuhan? Masih adakah artinya saya hidup bersaksi bagi Tuhan ditengah zaman seperti ini? Saya harus menjadi seorang yang mengasinkan air laut?”

Di dalam pergumulan bersama Tuhan, maka Yeremia menumpahkan seluruh isi hatinya kepada Tuhan. Yeremia hidup bersama Tuhan. Setiap aspek pengalaman yang dialami, tidak dilewatinya sendiri, tetapi bergumul bersama Tuhan. Berapa banyak Saudara yang katanya sudah lama menjadi orang Kristen, sudah hidup dengan semangat bergumul bersama Tuhan? Adakah engkau bergumul dalam segala aspek hidup bersama Tuhan? Atau kita hanya datang kepada Tuhan waktu ada persoalan dan berharap Tuhan menyelesaikan dengan shortcut seluruh persoalan kita. Puji Tuhan, persoalan kita selesai! Bagaimana jika Tuhan tidak menjawab, bagaimana jika Tuhan mengatakan ‘tidak,’ bagaimana jika Tuhan terus membiarkan kita berjalan dalam pengalaman hidup kita? Masihkah kita bergumul berjalan bersama Tuhan? Yeremia adalah seorang yang terus bergumul berjalan di dalam ketidakmengertiaannya. Tetapi tidak menjadi goyah, putus asa dan mundur hanya karena realita hidupnya. Yeremia masih mempunyai sikap iman yang ingin melaksanakan kehendak Tuhan, dia terus berjalan. Sampai kepada satu titik dimana Yeremia harus mengalami hal yang begitu berat, sampai Tuhan harus menjawab dia dalam pasal 12:5. Ini satu kalimat yang sangat menarik, “Jika engkau sudah berlari dengan orang berjalan kaki dan engkau sudah dilelahkan, bagaimana engkau hendak berpacu melawan kuda?” Terjemahan lain, “Jika engkau telah berlari dengan orang berjalan kaki dan engkau telah dilelahkan, masihkan engkau mau berpacu melawan kuda?” Jika engkau sudah diletakkan dalam situasi yang sulit dan engkau tidak bisa mengerti, masihkah engkau mau setia melaksanakan kehendak Tuhan? Maka dari seluruh integritas hidup Yeremia, kalau kita baca dari pasal 1 sampai terakhir, kita menemukan satu jawaban dari Yeremia, daripada pilih untuk mundur, sekalipun sudah dilelahkan oleh orang, Yeremia mengatakan, “Aku akan berpacu melawan kuda. Sekalipun aku sudah dilelahkan dengan situasi hidup yang aku tidak bisa terima, aku tidak akan mundur untuk ikut Tuhan, tidak akan mundur untuk menyangkal diri dan pikul salib demi melaksanakan kehendak Tuhan dalam hidup.” Kalau Saudara perhatikan hidup Yeremia, Saudara akan kagum akan hamba Tuhan yang begitu kuat, teguh berdiri menghadapi persoalan hidup yang rumit, sampai pada akhirnya dia dihukum mati. Meski ia dipenggal kepalanya, dia tidak kompromi. Yeremia adalah seorang hamba Tuhan yang hidupnya dijalankan dengan semangat memikul salib dan menyangkal diri. Yeremia bisa memilih hidup sebagai anak seorang imam, ia bisa hidup dengan tenang dan meneruskan tradisi ayahnya yang adalah seorang imam. Yeremia bisa memilih menjadi nabi Tuhan, memilih hidup tenang tanpa melakukan apa-apa. Tetapi kita melihat Yeremia taat dalam panggilan Tuhan. Meskipun kita melihat dalam perjalanan berikutnya firman Tuhan datang kepadanya dan Yeremia meresponi. Yeremia dipimpin ke dalam kesulitan demi kesulitan yang tidak ada habis-habisnya.

Mengapa Yeremia mempunyai kekuatan begitu besar? Beberapa catatan di pasal 1 memberikan catatan menarik tentang Yeremia. Ayat 1 dimulai disebutkan nama nabi Yeremia. Dalam Alkitab nama adalah sesuatu yang penting. Di dalam Perjanjian Lama, nama mempunyai signifikansi yang penting karena nama menyatakan makna orang itu. Kedua, nama dikaitkan dengan antisipasi. Menjadi kebiasaan Yahudi ketika orang tua dikaruniakan anak, dia akan mencari nama yang ada artinya dan menaruh harapan pada anak itu kelak sebagaimana nama itu. Sebagaimana kita melihat waktu malaikat datang kepada Maria dan mengatakan, “Hendaklah engkau menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan membebaskan umatNya dari dosa.” Ini menjadi satu pengharapan, maka melalui Anak yang lahir ini keselamatan akan tiba pada umat manusia. Sama halnya waktu Yeremia dilahirkan, orang tua mengharapkan Tuhan mengerjakan sesuatu dengan nama yang dilekatkan pada anak ini. Yeremia artinya ‘God exalted,’ Tuhan dipermuliakan dan ditinggikan, meskipun dirinya dirugikan terus menerus, Yeremia tidak mundur, meskipun dilupakan, tidak dianggap, mengalami kesulitan sendiri yang orang lain tidak bisa tahu.

Catatan kedua mengenai Yeremia adalah, mengapa Yeremia bisa hidup dengan integritas menyangkal diri? Karena Firman Tuhan datang kepada Yeremia dan berkata, “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku sudah kenal engkau. Sebelum engkau kenal Aku, Aku sudah kenal engkau, Aku sudah menetapkan pilihanKu keatasmu, Aku sudah melakukan tindakan terhadapmu. Aku sudah kenal engkau luar dalam, kekuatan maupun kelemahan. Maka waktu engkau lahir, besar dan mengalami kesulitan-kesulitan, jangan lupa ada Aku yang menyertai engkau di dalam seluruh perjalanan hidupmu.” Berikutnya alasan mengapa dia bisa hidup berintegritas memikul salib. Oleh karena Firman Tuhan mengatakan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku sudah menguduskan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa. Yeremia menjadi nabi bukan atas pilihan sendiri, melainkan atas kehendak Tuhan. Maka dengan tiga catatan seperti ini, Yeremia mempunyai fondasi cukup untuk melayani Tuhan dengan cara memikul salib dan menyangkal diri.

Selanjutnya kita melihat apakah Yeremia menerima kehendak Tuhan dijalankan dalam hidupnya? Sebagaimana kebanyakan kita, waktu Firman Tuhan tiba pada hidup kita, kita lebih banyak menyediakan alasan untuk tidak taat. Demikian juga dengan Yeremia, reaksi dia, “Tuhan Allah, aku ini masih muda. Sesungguhnya aku ini tidak pandai bicara karena masih muda.” Ada banyak orang Kristen yang dipanggil Tuhan, yang ditetapkan Tuhan untuk meninggikan Tuhan dan bersaksi bagi Tuhan, tetapi masih terus mencari-cari alasan tidak melayani Tuhan. Ada orang yang berkali-kali mengalami berkat Tuhan, tetapi tiba giliran Tuhan memanggil dia untuk bersaksi, dia mengatakan, “Tuhan saya masih tidak sempurna, tidak berkualifikasi, orang lain saja.” Simply semangat melarikan diri menjadi semangat yang membentuk hidup kita. Kita lebih suka di recognized oleh dunia ini, daripada dilihat signifikansi oleh Tuhan. Waktu Firman Tuhan datang, kita suka melarikan diri. Tetapi Tuhan tidak menghiraukan Yeremia, Tuhan mengatakan, “Kepada siapa Aku mengutus engkau, engkau harus pergi, engkau harus setia kemana Aku utus.” Maka kita melihat sesudah episode ini, hidup Yeremia benar-benar mencerminkan hidup menyangkal diri dan memikul salib sesuai dengan namanya.

Sebelum Tuhan mengutus dia, Tuhan masih memperlengkapi dia dengan dua hal penting yaitu visi (ayat 9-12). Menarik, Yeremia dipanggil dan dia tidak hidup sebagaimana visi yang popular di zaman dia hidup. Yeremia tidak dibentuk oleh visi hidup yang ditawarkan dunia. Tetapi Yeremia justru menaklukkan diri dengan visi yang diberikan Tuhan. Kalau kita perhatikan visi yang diberikan Tuhan kepada Yeremia dalam ayat 11-12, ini adalah suatu pengalaman yang unik. Pohon badam atau dalam Inggris diterjemahkan the rod of Almond, adalah pohon yang kecil tetapi kemudian menjadi pohon yang tumbuh dan berbunga pertama di tanah Palestina, sementara tempat lain masih belum ada tanda musim dingin lewat, maka tanda dari pohon badam menjadi tanda bahwa musim semi segera akan datang. Dan jika orang melihat pohon badam, orang akan melihat bahwa musim semi sudah akan datang. Maka Tuhan tanya, “Apakah yang engkau lihat?” Yeremia berkata, “Aku melihat batang pohon badam.” Menarik dalam bahasa ibrani ada dua kata dalam ayat 11-13 yang sangat dekat. Dalam bahasa Ibrani ‘pohon badam’ adalah shâqêd dan kata ‘memperhatikan’ adalah shaqâd, kedua kata ini muncul dalam ayat 11-13. Setelah Yeremia menjawab, “Saya melihat shâqêd.” Tuhan berkata, “Baik penglihatanmu. Aku sekarang shaqâd dan firmanKu akan Kutaruh dalam dirimu.” Ini cara Tuhan melatih Yeremia, meskipun ada tantangan dalam memikul salib dan menyangkal diri, tetapi masih ada pengharapan yang diberikan kepada dia. Maka setiap kali Yeremia melihat pohom badam, Yeremia mengingat ada Allah yang memperhatikan dan itulah jaminan bahwa janji yang diberikan Allah pasti digenapi dalam hidupnya.

Lalu yang kedua ialah visi lain, yaitu dalam ayat 13. Jika visi pertama memperlihatkan sisi yang positif kepada Yeremia, yaitu mengenai janji Tuhan, maka visi yang kedua memperlihatkan penghakiman dan murka Tuhan kepada Israel. Dan melalui visi ini, kita melihat dalam seluruh hidup Yeremia, dengan mengingat janji Tuhan dan mengingat penghakiman Tuhan yang segera tiba, melihat dua aspek ini, Yeremia diteguhkan menjadi hamba Tuhan dalam menjalankan panggilan hidup. Seumur hidup Yeremia tidak mundur. Saudara dan saya juga sama dengan Yeremia, selain kita diberikan Firman yang memberikan janji, diberikan Anak Allah yang tunggal datang ke dalam dunia, kita juga diberikan satu visi, yaitu Golgota. Itulah visi hidup kita. Karena Allah sudah begitu mengasihi kita dengan memberikan AnakNya yang tunggal kepada kita, Ia sudah mati dan bangkit. Dan Dia tidak meninggalkan kita, melainkan menyertai kita seumur hidup. Visi ini seharusnya bisa menyertai kita untuk hidup bagi Dia, hidup menyangkal diri dan memikul salib. Visi itu yaitu janji Dia akan datang kembali menjadi satu kekuatan. Memberikan pengharapan bahwa kita bisa memikul salib dan menyangkal diri. Di tengah dunia yang mementingkan recognition, penonjolan diri, masih adakah di tengah kita orang yang hidup seperti Yeremia? Yang rela menyangkal diri dan pikul salib mengikut Tuhan, melupakan recognition diri dan mengutamakan Tuhan? Apakah dalam segala aspek hidup kita mengatakan aku tidak peduli dirugikan yang penting Tuhan dimuliakan? Kalimat semacam ini bukan menjadi kalimat slogan. Saya sangat gentar, karena begitu banyak orang Kristen mengucapkan kalimat rohani yang besar-besar, tetapi terlalu sedikit orang Kristen yang menghidupi kalimat itu setiap hari. Misalnya, Saudara berkata, “Dalam seluruh hidupku tidak ada satu inci pun Kristus tidak bertahta.” Betulkah kalimat itu? Secara kalimat itu betul, tetapi secara praktek, apakah engkau berjuang menyangkal diri supaya Kristus benar-benar bertahta dalam hidupmu? Engkau berjuang dalam wilayah itu atau simply itu hanya suatu kalimat rohani yang bagus diucapkan tetapi kita mempunyai satu distance dengan kalimat itu? Yeremia tidak demikian. Kepada kita sudah diberikan visi Kalvari, biarlah visi itu memberikan kita kekuatan untuk ikut Tuhan. Jikalau hari ini kita ditanya, “Jika engkau sudah lelah berlari dengan orang yang berjalan, masihkah engkau mau berpacu melawan kuda? Jikalau engkau sudah mengalami begitu banyak benturan kesulitan hidup, masihkah ada ruang untuk menyangkal diri dan memikul salib mengikut Tuhan?” Saya rindu kita meneladani Yeremia untuk mengatakan, “Saya mau berpacu dengan kuda meskipun hal itu tidak mudah.”

Biarlah prinsip menyangkal diri dan memikul salib tidak menjadi slogan yang indah didengar, tetapi bisa menjadi semangat hidup orang Kristen. Dengan demikian penebusan Kristus tidak menjadi sia-sia dan hidup kita menjadi hidup yang berkenan kepada Tuhan. Kiranya Tuhan memberikan kita kekuatan untuk menyangkal diri dan membuang segala yang menghalangi kita dalam mengikut Tuhan. Dengan demikian kita baru bisa menyangkal diri dan memikul salib, dan kita baru layak untuk disebut sebagai murid-muridNya. Amin